top of page
  • Mia

Tata Cara Pernikahan Buddha dan Syarat Pelaksanaannya


pernikahan buddha

Tata cara pernikahan Buddha terbilang rumit dengan banyaknya ritual adat yang harus dilakukan oleh calon pengantin. Setiap ritual tersebut mengandung nilai-nilai luhur Buddhisme yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Dalam agama Buddha, pernikahan diibaratkan sebagai gerbang menuju cinta dan kesetiaan abadi. Peristiwa ini merupakan momen sakral yang menandakan terjadinya penyatuan dua jiwa dalam ikatan kasih sayang dan komitmen menurut ajaran Buddha. Oleh sebab itu, persiapan pelaksanaannya harus dilakukan dengan baik, mulai dari persyaratan administratif hingga ritual adat.

Adapun acaranya biasanya berlangsung di vihar, cetiya, atau rumah salah satu mempelai yang memenuhi syarat untuk melaksanakannya dengan dipimpin oleh seorang pandita yang akan membimbing mempelai dalam mengucapkan janji suci. Untuk menyelami lebih jauh mengenai seluk beluk tata cara pernikahan Buddha, berikut ulasan selengkapnya.

Syarat Pelaksanaan Pernikahan dalam Agama Buddha

Pertama, mari pahami dahulu apa saja hal yang harus disiapkan sebelum menjalankan pernikahan dalam agama Buddha. Ada tiga hal yang perlu calon pengantin perhatikan, yakni syarat administratif, kesiapan mental, serta alat pendukung acara.

1. Syarat Administratif Pernikahan Buddha

Untuk syarat administratif, acuannya adalah Undang-undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 serta aturan seremonial dari masing-masing Majelis Agama Buddha yang melaksanakan upacara perkawinan. Namun, secara umum syarat dokumen untuk menjalankan tata cara pernikahan Buddha adalah sebagai berikut:

  • Calon mempelai menghubungi pengurus vihara/Pandita Lokapalasraya.

  • Calon mempelai melengkapi dokumen/berkas perkawinan sebagimana diatur oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil.

  • Calon mempelai mengikuti Bimbingan Perkawinan bersama sebanyak 8 (delapan) kali.


2. Kesiapan Mental

Dari segi mental, kedua calon mempelai harus memperhatikan hal-hal berikut ini agar tidak merasakan penyesalan dalam kehidupan yang akan dijalani kedepannya:

  • Samma Sadha (keyakinan), keyakinan yang muncul dari pikiran dan pandangan yang benar sehingga akan membantu pola hidup yang baik.

  • Samma Sila (kemoralan), setiap anggota keluarga hendaknya memiliki nilai kemoralan dalam hidup agar ketertiban serta keharmonisan rumah tangga senantiasa terjaga.

  • Samma Cagga (kedermawanan), merujuk pada pemahaman akan arti cinta yang sesungguhnya, yaitu ikhlas memberi segala sesuatu yang kita miliki demi kebahagiaan orang yang kita cintai.

  • Samma Panna (kebijaksanaan), yakni kemampuan satu sama lain untuk menyelesaikan permasalahan dengan cepat dan bijak sesuai dengan wawasan dimiliki.

Sebagai catatan, ajaran Buddha juga menekankan bahwa hakekat hidup ini adalah ketidakpuasan, karena itu sangat wajar jika terbersit rasa tidak puas dalam hati seseorang mengenai karakter pasangannya. Namun, penyebab ketidakpuasan tersebut adalah keinginan. Karena itu selama seseorang dapat mengendalikan keinginannya, maka tidakpuasan pasti dapat terselesaikan.

4. Alat Pendukung Acara Pernikahan Buddha

Lalu, terlepas dari lokasi apa yang kamu pilih untuk melaksanakan pernikahan, pastikan sudah menyiapkan alat pendukung berikut ini:

  • Altar dengan Buddha Rupang

  • Lilin lima warna, yakni biru, kuning, merah, putih dan jingga

  • Tempat dupa

  • Sembilan batang dupa wangi

  • Gelas atau mangkuk kecil berisi air putih dengan bunga untuk percikan

  • Dua vas bunga dan dua piring buah-buahan untuk dipersembahkan oleh kedua mempelai

  • Cincin pernikahan

  • Kain kuning berukuran 90 x 125 cm²

  • Pita kuning sepanjang 100 cm

  • Tempat duduk atau bantal untuk pandita, kedua mempelai, dan bhikkhu (jika hadir)

  • Surat ikrar pernikahan

  • Persembahan dana untuk bhikhu, bentuknya bisa berupa bunga, lilin, dupa, dan lain-lain


Tata Cara Pernikahan Buddha

1. Persiapan Pandita

Sebelum acara berjalan, pihak keluarga harus memastikan bahwa pandita dan pembantu pandita sudah tiba di tempat upacara. Setelah itu, mereka harus bersiap di posisi masing-masing sambil menunggu kedua mempelai masuk.

2. Mempelai Memasuki Ruangan Upacara

Proses selanjutnya dalam tata cara pernikahan Buddha adalah masuknya kedua mempelai ke ruangan upacara. Lalu, mereka akan berjalan hingga mencapai altar dan berdiri di depannya dengan posisi berdampingan.

3. Konfirmasi Acara

Kemudian, pandita akan mengkonfirmasi terlebih dahulu kepada kedua mempelai apakah ada paksaan yang mengharuskan mereka melangsungkan pernikahan menurut tata cara agama Buddha. Apabila tidak ada, maka acara bisa langsung dimulai. Sementara jika ada, maka bisa jadi acara akan dibatalkan.

4. Penyalaan Lilin

Ritual selanjutnya adalah menyalakan lilin lima warna yang diawali oleh pandita, lalu kemudian diikuti orang tua kedua mempelai. Adapun lilin-lilin tersebut akan diletakkan dengan posisi sebagai berikut:

  • Lilin biru di sebelah kiri sebagai simbol harapan agar kedua mempelai berbakti kepada Triratna, orang tua, Guru, bangsa dan negara akan dinyalakan oleh ibu mempelai pria.

  • Lilin jingga di paling kanan sebagai simbol semangat akan dinyalakan oleh ayah mempelai pria.

  • Lilin kuning di baris kedua dari sebelah kiri sebagai simbol harapan agar kedua mempelai memiliki bekal kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan rumah dinyalakan oleh ibu mempelai perempuan.

  • Lilin putih di baris kedua dari sebelah kanan sebagai simbol kesucian tindakan, pikiran, maupun ucapan dinyalakan oleh ayah mempelai perempuan.

  • Lilin merah di tengah sebagai simbol cinta kasih yang universal untuk semua makhluk hidup dinyalakan oleh pandita.

5. Persembahan Bunga dan Buah

Setelah semua lilin menyala, kedua mempelai akan memberikan persembahan untuk Buddha dan Sangha. Ini dilakukan dengan meletakkan keranjang berisi bunga dan buah yang telah dipersiapkan sebelumnya di atas altar.

6. Namaskara Gatha

Ritual berikutnya dalam tata cara pernikahan Buddha adalah Namaskara Gatha. Pandita akan memimpinnya sambil mempersembahkan tiga batang dupa serta membaca teks berikut ini:

Araham Samma Sambuddho Bhagava Buddham Bhagavantam Ambhivademi. Svakkhato Bhagavata Dhammo Dhammam Namassami. Supatipanno Bhagavato Savakasangho Sangham Namami.

Cara membaca: A-ra-hang Sam-maa-sam-bud-dho bha-ga-waa Bud-dhang Bha-ga-wan-tang Abhi-waa-de-mi. Swaak-khaa-to Bha-ga-wa-taa Dham-mo Dham-mang Na-mas-saa-mi. Su-pa-ti-pan-no Bha-ga-va-to Saa-wa-ka-sang-gho. Sang-ghang na-maa-mi.

Artinya: Sang Bhagava, Yang Maha Suci, Yang telah mencapai Penerangan Sempurna, aku bersujud di hadapan Sang Buddha, Sang Bhagava. Dhamma telah sempurna dibabarkan oleh Sang Bhagava, aku bersujud di hadapan Dhamma. Sangha, siswa Sang Bhagava telah bertindak sempurna, aku bersujud di hadapan Sangha.



7. Pengucapan Vandana

Selanjutnya, kedua mempelai akan mengucapkan Vandana sebanyak tiga kali. Bacaan lengkapnya adalah sebagai berikut:

Namo Tassa Bhagavato Arahato. Samma Sambuddhassa.

Cara membaca: Na-mo Tas-sa Bha-ga-wa-to A-ra-ha-to. Sam-maa-sam-bud-dhas-sa.

Artinya: Terpujilah Sang Bhagava, Yang Maha Suci, Yang telah mencapai Penerangan Sempurna.

8. Ikrar Perkawinan dan Pemasangan Cincin

Proses selanjutnya adalah ikrar perkawinan yang biasanya bunyinya adalah sebagai berikut:

Di hadapan Buddha yang suci, saya (nama pasangan) berjanji untuk mencintai dan menghormati (nama pasangan) sebagai istri/suami saya. Setia dan menjaga kesetiaan saya kepada (nama pasangan), serta bersama-sama menjalani kehidupan pernikahan berdasarkan ajaran Buddha untuk mencapai kebahagiaan duniawi maupun spiritual bersama-sama.

Lalu, kedua mempelai akan saling memasangkan cincin pernikahan di jari manis tangan kanan sebagai bukti ikatan suci di antara mereka.

9. Percikan Air Pemberkatan

Ritual selanjutnya adalah percikan air pemberkatan yang dimulai dengan pengikatan pita kuning dan pemakaian kain kuning kepada kedua mempelai. Lalu, kedua orang tua da pandita akan bergantian memercikkan air pemberkatan ke arah mereka. Setelah selesai, maka pita dan kuning akan langsung dibuka.

10. Nasehat Pernikahan

Tahap berikutnya dalam tata cara pernikahan Buddha adalah pandita menyampaikan nasehat pernikahan untuk kedua mempelai. Ini bertujuan untuk memberi bekal awal agar pasangan pengantin dapat membangun kehidupan pernikahan yang harmonis dan bahagia hingga akhir hayat mereka.

11. Surat Ikrar Perkawinan dan Penutup

Terakhir, kedua mempelai akan menandatangani Surat Ikrar Perkawinan. Lalu, barulah pandita akan memimpin Namaskara penutup untuk menyudahi acara pernikahan tersebut.

Tips Mempersiapkan Pernikahan Buddha

Pernikahan Buddha merupakan momen sakral yang penuh makna. Untuk memastikan acara berjalan lancar dan sesuai dengan ajaran Buddha, berikut beberapa tips persiapan yang bisa kamu lakukan.


1. Konsultasi dengan Pandita

  • Pahami Tata Cara: Pandita adalah sosok yang memahami secara mendalam tentang ritual dan makna pernikahan Buddha. Konsultasikan dengan beliau untuk mendapatkan panduan yang tepat.

  • Pilih Tanggal Baik: Mintalah pandita untuk menentukan tanggal pernikahan yang dianggap baik dan membawa keberkahan.


2. Tentukan Konsep Pernikahan

  • Sesuaikan dengan Nilai Buddha: Pernikahan Buddha sebaiknya mencerminkan nilai-nilai kedamaian, kasih sayang, dan kebijaksanaan.

  • Pilih Tema Sederhana: Hindari konsep pernikahan yang terlalu mewah atau berlebihan, karena hal ini bertentangan dengan ajaran sederhana dalam Buddha.


3. Undangan Pernikahan

  • Desain Minimalis: Pilih desain undangan yang sederhana dan elegan, sesuai dengan konsep pernikahan.

  • Tuliskan Pesan Bermakna: Selain informasi penting, tambahkan pesan tentang makna pernikahan dalam ajaran Buddha.


4. Persiapan Atribut Pernikahan

  • Perlengkapan Upacara: Siapkan perlengkapan seperti patung Buddha, lilin, dupa, bunga, dan air suci sesuai dengan petunjuk pandita.

  • Busana Pengantin: Pilih busana yang sopan dan tidak terlalu mencolok. Warna putih atau pastel seringkali menjadi pilihan populer.


5. Persiapan Mental dan Spiritual

  • Ikuti Retret atau Meditasi: Persiapkan diri secara mental dan spiritual dengan mengikuti retret atau meditasi bersama pasangan.

  • Pelajari Ajaran Buddha: Mendalami ajaran Buddha akan membantu memperkuat ikatan spiritual antara pasangan.


6. Persiapan Venue

  • Pilih Tempat yang Tenang: Pilih venue yang memberikan suasana tenang dan damai, sesuai dengan nilai-nilai Buddha.

  • Dekorasi Sederhana: Hindari dekorasi yang terlalu ramai dan fokus pada elemen-elemen alam seperti bunga dan tanaman.


7. Menu Makanan

  • Hidangan Sehat: Sajikan makanan sehat dan bergizi, sesuai dengan ajaran Buddha tentang menjaga tubuh dan pikiran.

  • Hindari Alkohol: Sesuaikan menu dengan prinsip-prinsip Buddha, termasuk menghindari alkohol.


8. Hiburan

  • Musik Relaksasi: Pilih musik instrumental atau musik tradisional yang menciptakan suasana tenang dan damai.

  • Hiburan Bermakna: Jika ingin menghadirkan hiburan, pastikan sesuai dengan nilai-nilai Buddha dan tidak mengganggu kesakralan acara.


Dengan persiapan yang matang dan penuh kesadaran, pernikahan Buddha dapat menjadi momen yang sangat bermakna dan menjadi awal yang baik untuk kehidupan rumah tangga yang harmonis.


Demikian ulasan mengenai tata cara pernikahan Buddha yang sakral dan rumit. Apabila kamu dan pasangan ingin melangsungkan acara pernikahan dengan tata cara Budha seperti ini, kamu bisa menghubungi tim Yes I Do di sini untuk berkonsultasi gratis. Soalnya, Yes I Do juga menyediakan all-in wedding pacakages yang tentunya bisa membuat pernikahan kamu lebih hemat namun tetap sakral dan pastinya sesuai dengan impianmu dan pasangan.


Comentários


Wujudkan pernikahan impianmu

oranment-ring.png

Temukan inspirasi pernikahan, vendor, dan venue dengan harga terbaik.

Berhasil submit nomor handphone. Terima kasih.
Nomor handphone tidak boleh kosong
bottom of page