top of page

Panduan Lengkap Pernikahan Adat Palembang


pernikahan adat palembang
Sumber Instagram Ria Ricis

Pernikahan adat merupakan prosesi penuh makna yang sakral. Meskipun dikenal dengan kerumitan dan membutuhkan kocek ekstra, tapi sebagian orang masih percaya dan memutuskan menggunakannya di hari spesial mereka.

Salah satu yang masih digunakan adalah acara adat Palembang untuk mempertahankan kebudayaan tanah asalnya.  Nah lewat artikel ini Yes I Do akan membagikan ulasan terkait susunan acara adat pernikahan Palembang yang cukup panjang.

Biar tahu lebih dalam, yuk simak artikelnya berikut ini! 

Susunan Acara Adat Pernikahan Palembang 

Madik

Adat pernikahan Palembang diawali dengan acara madik yang artinya sebagai proses pendekatan atau penyelidikan sang gadis oleh utusan keluarga dari pihak laki-laki. Tujuan dilakukannya madik agar dapat mengetahui asal-usul, silsilah keluarga, dan mengetahui apakah sang gadis sudah ada yang memiliki atau belum. 

Menyengguk

Jika proses madik sudah terlaksana, tahap selanjutnya adalah menyengguk.

Menyengguk artinya memasang ‘pagar’ yang bertujuan agar gadis tersebut tidak bisa diganggu oleh senggung (hewan musang), atau diartikan juga sebagai laki-laki. Apabila sudah sampai di tahap ini, artinya sudah ada keseriusan dari calon pengantin laki-laki. 

Biasanya keluarga laki-laki akan datang mengirimkan utusannya ke rumah sang gadis sembari membawa tenong atau sangkek yang merupakan anyaman bambu berbentuk bulat atau persegi empat yang dibungkus kain batik bersulam benang emas. Tenong kemudian diisi dengan macam-macam makanan, seperti telur, terigu, mentega, dan bahan-bahan lainnya.

Berasan

Susunan acara adat pernikahan Palembang selanjutnya adalah berasan atau sejenis musyawarah antara kedua keluarga besar calon mempelai. Biasanya jika sudah sampai pada tahap ini akan diputuskan persyaratan pernikahannya seperti apa, baik secara adat, agama, dan tahapan prosesi adat setelahnya. 

Untuk syarat pernikahan secara agama yaitu penentuan mahar atau mas kawin. Lalu, syarat pernikahan secara adat biasanya akan dilaksanakan sesuai dengan kesepakatan. Mulai dari Adat Berangkat Tigo Turun, Adat Berangkat Duo Penyeneng, Adat Berangkat Adat Mudo, Adat Tebas, atau Adat Buntel Kadut.

Masing-masing adatnya memiliki persyaratan sebagai berikut: 

  • Adat Berangkat Tigo Turun

  • Pada seturun pertama berisikan selendang songket lepus, baju kurung songket tabor, dan kain songket pulir. Lalu, pada seturun kedua diharuskan ada kain songket cukitan, baju kurung angkinan, dan lain lain.

  • Adat Tebas: Untuk adat jenis ini semua persyaratan dikompensasikan dalam bentuk uang.

  • Adat Buntel Kadut: Untuk adat ini pihak laki-laki harus memberikan sejumlah uang yang telah didiskusikan bersama pihak perempuan. 

Mutuske Kato

Saat masuk pada susunan Mutuske Kato, kedua keluarga nantinya akan membuat keputusan terkait Hari Nganterke Belanjo, Hari Pernikahan, Hari Munggah, Hari Nyemputi dan Nganter Pengantin, Ngalie Turon, Pengantin Becacap atau Mandi Simburan, serta Beratib. 

Pada tahap ini, pihak keluarga laki-laki akan membawa 7 tenong berisi gula pasir, tepung terigu, telur itik, emping, pisang, sampai buah-buahan. Adapun perlengkapan lainnya harus dibawa juga untuk memenuhi prosesi adat. Saat akan pulang, tenong nantinya akan dikembalikan dan diisi dengan aneka jajanan khas Palembang.

Nganterke Belanjo

Tahap Nganterke Belanjo umumnya dilakukan setengah bulan atau sebulan sebelum acara munggah. Tahap ini biasanya lebih banyak dilakukan oleh pihak perempuan, karena pihak laki-laki hanya mengiringi saja. 

Selanjutnya uang belanja akan dimasukkan ke dalam ponjen berwarna kuning dengan atribut pengiring berbentuk manggis. Selain itu, hantaran dari pihak laki-laki akan turut dilengkapi dengan nampan-nampan berisi paling sedikit 12 aneka bahan keperluan pesta, seperti terigu, gula, buah-buahan kaleng, kue-kue, sampai jajanan. 

Persiapan Jelang Akad Nikah

Terdapat beberapa ritual yang akan dilakukan oleh calon mempelai perempuan yang dipercaya bisa berdampak pada kecantikan dan kesehatan sang mempelai yaitu Betangas. 

Betangas adalah sejenis mandi uap, bebedak setelah betangas, dan berpacar (berinai) yang akan diberikan pada seluruh kuku kaki dan tangan sang perempuan dan juga telapak tangan dan kaki yang disebut pelipit.

Upacara Akad Nikah

Prosesi adat pernikahan Palembang selanjutnya adalah upacara akad nikah. Jika berdasarkan tradisi akad nikah berlangsung 

sebelum acara munggah, maka terlebih dahulu utusan calon pengantin perempuan akan melakukan prosesi nganterke keris ke rumah calon pengantin laki-laki.

Ngocek Bawang

Ngocek bawang adalah persiapan awal dalam menghadapi hari munggah yang dilakukan dua hari hari sebelumnya. Persiapan seperti pemasangan tapup, persiapan bumbu-bumbu masak, dan lain-lain biasanya akan disiapkan pada hari ini. 

Sehari sebelum acara munggah, akan dilakukan acara ngocek bawang besak. Jika ada segala persiapan yang belum selesai, maka akan dikerjakan saat acara ini. Hal-hal yang perlu disiapkan di antaranya mengundang ke rumah besan (ngulemi) dan pihak yang di-ulemi pada masa ngocek bawang diwajibkan datang. Pada acara ini juga akan diutus dua orang yaitu perempuan dan laki-laki. 

Munggah

Susunan acara adat pernikahan Palembang yang ke-9 adalah Munggah. Acara puncak ini akan dimulai dengan kedatangan rombongan keluarga mempelai pria sambil membawa sejumlah barang hantaran, yang berupa 12 macam yang berisi tiga set kain songket, kain batik Palembang, kain jumputan, kosmetik, buah-buahan, hasil bumi, aneka kue, uang, sampai perhiasan, yang akan diiringi dengan memainkan rebana.

Saat tiba di rumah mempelai perempuan, sang ibu akan dibalutkan kain songket bermotif lepus ke punggung pengantin laki-laki, dan kemudian menariknya menuju kamar pengantin perempuan, atau yang disebut dengan acara gendong anak mantu. 

Nah, begitu sampai di depan pintu kamar akan dilakukan acara ketuk pintu yang turut didampingi oleh utusan yang dituakan, atau disebut dengan tumbu jero. Begitu pintu dibuka, mempelai laki-laki akan membuka kain selubung yang menutupi wajah istrinya atau yang disebut acara buka langse.

Setelah itu, dilanjutkan dengan acara suapan dimana orangtua mempelai perempuan menyuapi dengan nasi ketan kunyit dan ayam panggang. Selanjutnya diteruskan dengan acara cacap-cacapan yang prakteknya berupa orangtua pengantin laki-laki mencacap atau mengusap ubun-ubun kedua pengantin dengan air kembang setaman sebagai tanda pemberian nafkah terakhir.

Sirih Panyapo

Kemudian, selanjutnya akan ada juga acara sirih panyapo yaitu momen ketika pengantin perempuan memberikan sirih pada suaminya sebagai perlambang jika dalam hidup keluarga mereka akan saling memberi dan menerima.

Acara terakhir ada upacara timbang adat yang berupa topi mempelai laki-laki ditimbang sebagai tanda bahwa mereka akan selalu sekata dalam menjalani kehidupan perkawinan.

Nyemputi

Acara yang dilakukan dua hari setelah acara munggah ini akan akan mengharuskan pihak mempelai laki-laki datang dengan rombongannya untuk menjemput mempelai perempuan berkunjung ke kediaman mereka. Pada acara nyemputi ini, pihak laki-laki juga sudah mempersiapkan perayaan khusus. 

Nyanjoi

Adat pernikahan Palembang selanjutnya adalah nyanjoi. Nyanjoi sendiri dilakukan setelah munggah dan nyemputi yang pada umumnya dilakukan sebanyak dua kali. 

Pada malam pertama, yang datang ke acara nyanjoi adalah rombongan anak muda dari kerabat mempelai laki-laki dan perempuan, sedangkan pada malam kedua dari kalangan orangtua. 

Nganter Penganten

Selanjutnya ada acara nganter penganten. Pada masa-masa ini, di rumah besan perempuan sudah disiapkan acara mandi simburan yang dilakukan untuk menyambut malam perkenalan antara pengantin laki-laki dengan pengantin perempuan. 

Malam tersebut juga sekaligus jadi tanda selesainya tugas dari tunggu jeru yaitu perempuan yang ditugaskan untuk mengatur dan memberikan petunjuk cara melaksanakan setiap rangkaian acara ketika pelaksanaan perkawinan. 

Adapun perempuan tunggu jeru ini bisa berfungsi sebagai penanggal atau penjaga keselamatan saat berlangsungnya seluruh acara perkawinan dan meminimalisir kemungkinan adanya gangguan dari orang yang tidak menyukai adanya acara tersebut.

Tarian Pagar Pengantin

Rangkaian puncak acara adat pernikahan Palembang  yang terakhir adalah Tarian Pagar Pengantin. Biasanya pengantin perempuan akan menari satu tarian adat yang ditemani oleh tiga orang penari lainnya. 

Tarian ini menggambarkan persembahan terakhir dari pengantin perempuan karena akhirnya melepaskan masa lajangnya. Tariannya sendiri dilakukan di depan pengantin laki-laki, dan dia menari di atas nampan bertaburkan bunga mawar.

Tarian Pagar Pengantin juga memberikan isyarat jika setelah menikah, perempuan tidak akan sebebas dulu lagi, karena ruang geraknya sudah terbatas, dibandingkan ketika dia masih lajang. 

Nah, itu dia informasi terkait susunan adat pernikahan Palembang yang bisa brides ketahui. Semoga bisa jadi informasi bermanfaat bagi kamu yang tengah mencari referensi pernikahan adat dari Palembang. Semangat ya dalam mempersiapkan pernikahanmu!

Comments


Wujudkan pernikahan impianmu

oranment-ring.png

Temukan inspirasi pernikahan, vendor, dan venue dengan harga terbaik.

Berhasil submit nomor handphone. Terima kasih.
Nomor handphone tidak boleh kosong
bottom of page